Selamat datang untuk Risa, Dina dan Dea dari Bandung. Setelah ganti formasi, perubahan yang dibawa Dea boleh juga. Keliatan dari Semu versi Dea dan juang. Walaupun di album ini Juang masih ambil bagian.
Dari 12 lagu yang ada di album ‘Epic Symphony’ ini, semuanya berhasil memberi nuansa dingin, hampa, kosong. Dari suara Risa yang mengambang mendesah sampai terdengar kurang kuat dan terpaksa. Kalau yang terakhir ini paling terdengar di Faithful Dreams&Mindless. Kenapa saya bilang begitu? Entah sengaja atau tidak, di akhir kalimat suara Risa terkesan gantung. Mungkin di album berikutnya bisa diperbaiki.
Bukan hanya itu saja yang saya kira perlu, di sini saya tidak menemukan nada maupun beat baru. Sehingga beberapa lagu terdengar serupa. Mungkin lain kali bisa lebih berani bereksperimen.
Keseluruhan album sudah bagus, favorit saya Kekal dan tetap ‘Semu’ versi lama. Walaupun jelas sekali saya lebih suka melihat mereka live daripada di album. Mungkin karena hipnotis visual dari Biosampler atau energi lagu mereka lebih mengalir ketimbang hanya didengarkan. Jarang ada band seperti ini.
writer’s note: lebih enak dengerin sambil sendirian dengan volume hampir max. Kalau tanggung malah serem denger desahan Risa. agak kecewa juga, ga yang kaya gue harapkan. tapi tetep bagus kok kalo live.
dyan’s signing out











0 Responses to “Review Epic Symphony by dyan”